neuroscience cermin

bagaimana melihat orang lain senang memakai produk memicu sel saraf kita untuk ikut menginginkannya

neuroscience cermin
I

Pernahkah kita terbangun jam dua pagi, berniat hanya mengecek ponsel sebentar, lalu berujung menonton video seseorang membuka kotak barang baru dengan wajah berbinar? Di layar itu, si pembuat video tersenyum puas, memegang produk tersebut seolah itu adalah benda paling menakjubkan di bumi. Tiba-tiba, jantung kita berdebar halus. Kita merasa harus memiliki barang itu sekarang juga. Padahal, lima detik yang lalu, kita bahkan tidak tahu bahwa produk tersebut eksis. Rak di rumah kita mungkin sudah penuh, dompet kita mungkin sedang menipis, tapi dorongan untuk menekan tombol beli itu terasa sangat nyata. Kenapa kita tiba-tiba menginginkannya dengan sebegitu kuat? Mari kita bedah keanehan otak kita ini bersama-sama.

II

Kita mungkin sering menyalahkan diri sendiri dalam situasi seperti itu. Kita menganggap kita punya kontrol diri yang lemah atau terlalu mudah tergoda. Tapi teman-teman, mari kita tarik napas sejenak dan bersikap lebih adil pada diri sendiri. Ini bukan semata-mata soal hasrat belanja yang tak tertahan atau kurangnya disiplin. Ada sejarah panjang evolusi kelangsungan hidup di balik layar ponsel kita. Bayangkan leluhur kita puluhan ribu tahun lalu di alam liar. Mereka bertahan hidup bukan dengan membaca buku panduan, tapi dengan saling mengamati secara intens. Jika seseorang di kelompoknya memakan buah berry asing lalu tersenyum puas, otak kita zaman dulu langsung mencatat: buah itu aman, manis, dan lezat. Jika mereka memakannya lalu meringis kesakitan, kita tahu untuk menjauhinya. Secara genetik, kita berevolusi untuk merespons emosi dan pengalaman orang lain demi bertahan hidup. Tapi, bagaimana tepatnya organ seberat satu setengah kilogram di dalam tengkorak kita ini melakukan sihir empati tersebut?

III

Untuk menjawab teka-teki ini, kita harus melakukan perjalanan waktu ke sebuah laboratorium di Parma, Italia, pada awal era 1990-an. Saat itu, sekelompok ilmuwan sedang meneliti otak kera makaka. Mereka memasang elektroda pada bagian otak kera yang mengatur gerakan, khusus untuk melihat sel saraf mana yang menyala saat kera tersebut mengambil kacang. Suatu hari, saat jam istirahat siang, sebuah kejadian tidak terduga terjadi. Seorang peneliti berdiri di depan kera itu dan dengan santai memasukkan kacang ke mulutnya sendiri. Sang kera hanya duduk diam menonton. Namun, mesin pemindai otak tiba-tiba berbunyi nyaring. Pola aktivitas otak si kera menunjukkan bahwa ia seolah-olah sedang bergerak mengambil dan memakan kacang itu, padahal fisiknya sama sekali tidak bergerak. Sel-sel saraf di kepala kera itu meniru persis apa yang ia lihat. Fenomena kebetulan ini membuat para ilmuwan terdiam keheranan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala primata itu, dan rahasia besar apa yang diam-diam juga terjadi di kepala kita setiap hari?

IV

Inilah saatnya kita berkenalan dengan salah satu penemuan paling revolusioner dalam dunia neurosains modern: sel saraf cermin atau mirror neurons. Sel-sel ini adalah fondasi biologis dari rasa empati manusia. Ketika kita melihat seseorang menangis, sel saraf cermin kita menyala dan membuat kita ikut merasa sedih. Nah, sekarang mari kita sambungkan sains ini dengan kebiasaan konsumsi kita. Ketika teman-teman melihat seseorang menyesap kopi susu dengan wajah sangat menikmati, sel saraf cermin kita langsung bekerja lembur. Otak kita secara harfiah mensimulasikan rasa manis, sensasi dingin, dan kepuasan dari kopi tersebut di kepala kita sendiri. Kita tidak hanya melihat orang lain bahagia; otak kita sedang meminjam dan mencicipi kebahagiaan itu. Inilah alasan ilmiah mengapa influencer marketing begitu luar biasa efektif. Pada tingkat neurologis yang paling dalam, kita sebenarnya tidak sedang membeli produknya. Kita sedang membeli perasaan yang disimulasikan oleh otak kita saat melihat orang lain merasa bahagia menggunakannya.

V

Memiliki otak yang dengan mudah beresonansi dengan kebahagiaan orang lain sebenarnya adalah hal yang sangat puitis. Ini membuktikan bahwa sebagai manusia, kita terhubung satu sama lain dengan cara yang sangat mendalam. Namun, di era digital di mana setiap layar mencoba memicu sel saraf kita untuk menjual sesuatu, kita perlu mempersenjatai diri dengan sedikit pikiran kritis. Mengetahui cara kerja otak kita tidak lantas mematikan empati, tetapi memberi kita jeda waktu yang sangat berharga. Lain kali, saat kita tiba-tiba merasa sangat ingin membeli barang yang baru saja dipakai orang lain dengan bahagia di media sosial, mari tersenyum kecil. Tanyakan pada diri kita bersama-sama: apakah saya benar-benar butuh benda ini, ataukah ini cuma sel saraf cermin saya yang sedang kegirangan minta direspons? Dengan memahami sains di balik keinginan kita, mari kita ambil kembali kendali atas kebahagiaan dan dompet kita, satu kesadaran saraf pada satu waktu.